kebudayaan
yang berbeda.
Contoh dari perkembangan kebudayaan adalah penggunaan
teknologi baru dan alat-alat yang sudah modern yang digunakan dikehidupan
sehari-hari sehingga masyarakat jarang menggunakan cara manual atau menggunakan
cara adat kebudayaannya masing-masing. Hampir semua masyarakat di Indonesia
sudah mengandalkan teknologi.
Berikut ini adalah faktor-faktor yang menimbulkan terjadinya
masalah penduduk dengan perkembangan kebudayaan :
·
Adanya kontak
dengan budaya lain, sehingga budaya yang asli sudah terkontaminasi dengan
budaya baru
·
Sistem pendidikan
formal yang maju
·
Ketidakpuasan
masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu
·
Nilai bahwa
manusia harus mengikuti setiap perkembangan jaman yang ada
·
Mengikuti gaya
atau trend yang kebarat-baratan
Tanggapan saya :
jadi perubahan sosial dapat dibedakan dari perubahan kebudayaan. Meskipun
demikian secara teori, orang hanya cenderung membedakan perubahan sosial dengan
perubahan kebudayaan dari segi pengertian masyarakat dan budaya yang diberikan
saja. Karena pada umumnya perubahan sosial lebih menekankan pada perubahan
dalam sistem lembaga yang mengatur tingkah laku manusia. Sedangkan perubahan
kebudayaan lebih menyangkut pada perubahan sistem nilai dari masyarakat yang
bersangkutan.
2. Pengaruh Pertumbuhan Penduduk Terhadap Perkembangan Sosial
Pertumbuhan penduduk yang signifikan akan berdampak pada perubahan
sosial kehidupan masyarakat Indonesia. Perubahan sosial merupakan
perubahan-perubahan dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi system
sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola
perilaku dalam masyarakat. Berikut adalah penjelasan mengenai pengaruh
pertumbuhan penduduk terhadap perkembangan sosial di masyarakat.
a. Meningkatnya permintaan terhadap kebutuhan sandang, pangan,dan papan
Setiap manusia pasti memiliki kebutuhan pokok yang harus terpenuhi,
yakni sandang, pangan, dan papan. Ketiga kebutuhan ini tak terelakkan
lagi harus terpenuhi untuk kelanjutan hidup manusia. Kebutuhan akan
sandang dapat dipenuhi oleh industry tekstil,kebutuhan akan pangan dapat
dipenuhi oleh industri pertanian(salah satunya), dan kebutuhan papan
dapat dipenuhi oleh industry bahan bangunan (salah satunya). Jika
terjadi ledakan jumlah penduduk, maka semakin banyak pula manusia yang
membutuhkan asupan sandang, pangan, dan papan.Tapi apa yang terjadi jika
ternyata stok sandang, pangan, dan papan yang ada ternyata tidak mampu
memenuhi kebutuhan penduduk yang jumlahnya semakin bertambah ?
Dalam buku berjudul The Population Bomb (Ledakan Penduduk) pada tahun 1968 oleh Paul R. Ehrlich meramalkan
adanya bencana kemanusiaan akibat terlalu banyaknya penduduk dan
ledakan penduduk. Karya tersebut menggunakan argumen yang sama seperti
yang dikemukakan Thomas Malthus dalam An Essay on the Principle of Population (1798),
bahwa laju pertumbuhan penduduk mengikuti pertumbuhan eksponensial dan
akan melampaui suplai makanan yang akan mengakibatkan kelaparan .
Sebagai contoh untuk kebutuhan pangan, pemerintah memiliki BULOG (Badan
Urusan Logistik) untuk pemerintah pusatdan DOLOG (Depot Logistik) untuk
pemerintah daerah yang berfungsi salah satunya untuk menjamin
ketersediaan kebutuhan pangan pokok seperti beras, minyak goreng, gula,
dan lain-lain. Semakin bertambahnya penduduk, maka akan semakin banyak
pula kebutuhan pangan pokok yang harus disediakan oleh DOLOG.Bagaimana
jika kebutuhan sembako yang disediakan oleh DOLOGternyata tidak mampu
memenuhi kebutuhan penduduk di daerah itu? Tentu sembako akan menjadi
barang rebutan dan akan menjadi barang yang langka yang mengakibatkan
harganya akan semakin melonjak dan masyarakat yang berada di kelas
ekonomi menengah ke bawah tidak mampu membeli kebutuhan pangan tersebut,
dan tentu akan berdampak pada kemiskinan yang kian parah.
b. Berkurangnya lahan tempat tinggal
Untuk memenuhi kebutuhan papan yakni rumah tentu kita memerlukan lahan
untuk membangun. Semakin bertambah banyak penduduk, tentu kebutuhan akan
rumah semakin banyak dan otomatis lahan yang dibutuhkan semakin banyak.
Sementara lahan yang tersedia luasnya tetap. Yang akan terjadi adalah
padatnya pemukiman dan sedikit sekali lahan-lahan kosong yang tersisa
karena semakin sedikitnya lahan yang kosong, akan membuat harga tanah
semakin melonjak, dan tentu saja masyarakat ekonomi menengah ke bawah
tidak mampu membeli tanah untuk membangun rumah, sehingga mereka mencari
“lahan” lain untuk tinggal, seperti kolong jembatan, taman kota,
stasiun, emperan toko, dan lain-lain.
Tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan papan, untuk memenuhi kebutuhan
pangan pun kita memerlukan lahan. Misalnya beras, untuk menghasilkan
beras tentu diperlukan sawah untukmenanam padi.Semakin bertambahnya
penduduk semakin bertambah pula kebutuhan akan beras . Dan semakin
bertambahnya kebutuhan beras akan semakin bertambah pula kebutuhan akan
lahan untuk menanam padi. Apa yang terjadi jika lahan ‘lumbung padi’
nasional semakin lama semakin berkurang ? Jika kita dilihat dua fenomena
di atas, ledakan penduduk akan mengakibatkan terjadinya perebutan
lahan untuk perumahan dan pertanian. Dan sebagian besar fenomena yang
terjadi dewasa ini adalah pengikisan lahan yang lebih diutamakan untuk
perumahan. Kemudian ledakan penduduk juga akan berakibat semakin
berkurangnya rasio antara luas lahan dan jumlah penduduk atau yang
biasa kita sebut dengan kepadatan penduduk.
c. Meningkatnya investor yang datang
Dengan banyaknya jumlah penduduk akan berakibat menjamurnya pusat
perbelanjaan. Seorang pengusaha tentu akan membangun usahanya ditempat
yang strategis, tempat yang ramai, dan tempat yang menurutnya banyak
terdapat konsumen. Kawasan padat penduduklah yang akan menjadi incaran
para investor atau pengusaha. Untuk daerah perkotaan, para pengusaha
akan cenderung untuk membangun pusat perbelanjaan modern atau yang biasa
kita sebut Mall. Mungkin menurut sebagian besar orang, suatu daerah yang memiliki banyak Mall mencirikan
bahwa daerah tersebut adalah daerah metropolitan yang masyarakatnya
cenderung berada di kelas ekonomi menengah ke atas dan akan mendongkrak
gengsi masyarakat. Padahal fakta yang ada di balik fenomena menjamurnya
pusat perbelanjaan modern adalah meningkatnya sifat konsumtif.
Jika jumlah pusat perbelanjaan di suatu daerah semakin banyak, lama
kelamaan akan menimbulkan sifat konsumtif masyarakat di daerah tersebut.
Sifat konsumtif dapat berujung ke sifat malas, tidak kreatif,dan
akhirnya akan menuju ke arah kemiskinan. Mengapa sifat konsumtif dapat
berujung ke sifat malas ? Hal ini disebabkan karena masyarakat merasa
semuanya sudah tersedia di pusat perbelanjaan tersebut. Sehingga mereka
malas untuk memproduksi sesuatu. Dan akibatnya masyarakat akan terus
bergantung pada keberadaan pusat perbelanjaan tersebut dan menjadi
masyarakat yang tidak produktif.
d. Meningkatnya angka pengangguran
Semakin bertambahnya jumlah penduduk tentu akan meningkatkan jumlah
tenaga kerja yang tersedia. Namun bagaimana jika lapangan pekerjaan yang
tersedia tidak cukup menampung jumlah tenaga kerja yang ada? Tentu hal
ini akan berdampak pada meningkatnya angka pengangguran.Ledakan penduduk
adalah masalah yang harus segera ditangani dengan serius oleh
pihak-pihak yang terkait karena apabila permasalahan ini terus berlanjut
akan mengakibatkan dampak-dampak yang telah dijelaskan.
Adapun solusi yang dapat menyelesaikan permasalahan ledakan penduduk yaitu:
a. Melakukan program transmigrasi
b. Menggalakkan program keluarga berencana
c. Mengoptimalkan lahan dengan menggunakan teknologi.
d. Pemerataan pembangunan
3. Hubungan Antara Masalah Penduduk dengan Perkembangan Kebudayaan
“ Kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat “ (Selo Sumarjan dan Soelaeman Soemardi)
Tidak ada kebudayaan yang statis, semua kebudayaan mempunyai dinamika
dan gerak. Gerak kebudayaan sebenarnya adalah gerak manusia yang hidup
dalam masyarakat yang menjadi wadah kebudayaan. Gerak manusia terjadi
oleh karena mengadakan hubungan-hubungan dengan manusia lain.
Terjadinya gerak / perubahan ini disebabkan oleh beberapa hal :
- Sebab-sebab yang berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan sendiri, misalnya perubahan jumlah dan komposisi penduduk.
- Sebab-sebab
perubahan lingkungan alam dan fisik tempat mereka hidup. Masyarakat
yang hidupnya terbuka, yang berada dalam jalur-jalur hubungan dengan
masyarakat dan kebudayaan lain, cenderung untuk berubah lebih cepat.
Gerak tersebut tidak hanya disebabkan oleh jumlah penduduk dan
komposisinya, juga karena adanya difusi kebudayaan, penemuan-penemuan
baru, khususnya teknologi dan inovasi.
Perubahan kebudayaan terjadi apabila suatu kelompok manusia dengan
kebudayaan tertentu dihadapkan pada unsur-unsur suatu kebudayaan asing
yang berbeda sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu
dengan lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri,
tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.
Beberapa masalah yang menyangkut proses itu adalah :
- Unsur kebudayaan asing manakah yang mudah diterima
- Unsur kebudayaan asing manakah yang sulit diterima
- Individu manakah yang cepat menerima unsur-unsur baru
- Ketegangan apakah yang timbul sebagai akibat akulturasi tersebut
Secara sederhana hubungan antara manusia dan kebudayaan adalah : manusia
sebagai perilaku kebudayaan, dan kebudayaan merupakan objek yang
dilaksanakan manusia. Tetapi apakah sesederhana itu hubungan keduanya?
Dalam sosiologi manusia dan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal,
maksudnya bahwa walaupun keduanya berbeda tapi keduanya merupakan satu
kesatuan. Manusia menciptakan kebudayaan, dan setelah kebudayaan itu
tercipta, maka kebudayaan mengatur hidup manusia agar sesuai dengannya.
Tampak bahwa keduanya akhirnya merupakan satu kesatuan. Contoh sederhana
yang dapat kita lihat adalah hubungan antara manusia dengan
peraturan-peraturan kemasyarakatan. Pada awalnya peraturan itu jadi maka
manusia yang membuatnya harus patuh terhadap peraturan tersebut. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa manusia tidak dapat dilepaskan dari
kebudayaan, karena kebudayaan itu merupakan perwujudan dari manusia itu
sendiri. Apa yang tercakup dalam suatu kebudayaan tidak akan jauh
menyimpang dari kemauan manusia yang membuatnya.
Hubungan antara manusia dan kebudayaan ini dapat dipandang setara dengan
hubungan antara manusia dengan masyarakat dinyatakan sebagai dialektis,
maksudnya saling terkait satu sama lain. Pada kondisi sekarang ini kita
tidak dapat lagi membedakan mana yang lebih awal muncul, manusia atau
kebudayaan. Analisa terhadap keberadaan keduanya harus menyertakan
pembatasan masalah dan waktu agar penganalisaan dapat dilakukan dengan
lebih cermat.
0 komentar:
Posting Komentar